Qurrota 'Ainun

ice cream makes you happy

Berbahagialah engkau yang disayangi orang yang aku sayang. Bersyukurlah bahwa engkau termasuk istimewa dimatanya.

(Source: renynurainy, via kurniawangunadi)

seringkali kita membuat prioritas seenaknya, menganggap organisasi A lebih penting dibandingkan organisasi B, padahal, jika kita sudah memutuskan untuk bergabung ke dalam kedua organisasi tersebut, seharusnya kita memberikan usaha 100 % kepada keduanya..100 % ke organisasi A , dan 100 % ke organisasi B. bukannya “menganggarkan” 60 % kepada organisasi A, dan 40 % ke organisasi B.

jika tidak bisa, ya jangan memilih keduanya…

—(via adlinapanca)

Cerpen: Perempatan Kehidupan

kurniawangunadi:

Bagi setiap orang yang melalui perempatan ini akan mengeluhkan lamanya lampu merah yang mau tidak mau memaksa mereka menghentikan waktu barang 120 detik. Terasa lama dan panas. Meresahkan dan menggerutu sebab terjebak dalam 120 detik yang sebenarnya amat sangat pendek.

Tapi bagi kami, 120 detik adalah berarti sebungkus nasi dengan lauk tempe goreng atau kerupuk. Kami harus memanfaatkan waktu 120 detik untuk melakukan banyak hal dengan gesit, lantas kami merendahkan diri kami untuk mendapat sekedar belas kasihan dari setiap orang yang terjebak disini.

Kami, aku dan adik perempuanku selalu berbagi tugas. Aku yang menyanyi ala kadarnya dengan sebuah kotak dan tali karet yang dibuat dari potongan dalam ban sepeda bekas. Nada yang tidak beratur. Nyanyian kami mungkin menambah sebal setiap orang yang terjabak disini.

Masih ada 80 detik, aku dan adikku menghentikan nyanyian dan adik perempuanku dengan badan kecilnya gesit menyela-nyela aneka kendaraan. Aku selalu merasa sedih melihatnya. Adik perempuanku yang cantik. Tapi tidak terlihat cantik. Setiap orang abai pada kecantikannya bukan?

“Alhamdulillah”, ucapnya setiap kali kami menepi di pinggir jalan ketika 120 detik kesempatan itu habis. Aku mendekap adikku yang selalu tersenyum ini. Ia belum mengerti mengapa ia harus melakukan seperti ini. Ia menganggap ini sebuah permainan. Layaknya permainan anak-anak seperti halnya yang lain.

Pernah suatu kali ada orang berpenampilan serba putih memaki kami dari dalam bis. Mengatakan bahwa nyanyian itu haram. Aku mendekap adikku yang ketakutan. Aku diam saja meski ingin membantah banyak sekali. “Seandainya ada pekerjaan lain yang bisa kami lakukan, tentu kami tidak akan menyanyi seperti ini di dalam bis dan perempatan! Apa yang bisa kamu lakukan untuk kami? Hanya memaki? Memaki anak-anak?”

Jawaban itu tertahan dalam hati.

Aku benci sekali kepadanya, karena dia telah membuat takut adik perempuanku. Di pinggir jalan aku menenangkan adikku yang matanya mulai berair.

“Ada kakak, kamu jangan takut”

Bandung, 17 Mei 2013

Sebalnya.

Sebalnya jadi pelajar, diminta untuk menggambar tapi tidak bisa menggambar. Sebalnya harus menyelesaikan 3 tumpuk laporan biologi yang tak kunjung usai. Sebalnya laporan itu harus ditumpuk besok senin. Sebalnya jika tidak diselesaikan malam ini juga tidak ada waktu di hari jumat, sabtu maupun minggu. Jika hari jumat, harus mempersiapkan untuk hari sabtu. Jika hari sabtu, lelah dan harus mempersiapkan untuk hari minggu. Jika hari minggu harus lembur 3 laporan sekaligus malam itu juga. 

Tidak enaknya menunda-nunda pekerjaan. Yang harusnya bisa selesai hari ini kau tunda esok hari. Padahal kau sudah tau, tugas hari ini adalah tiket tugas esok hari. Kalau sudah begini mau bagaimana?

Judulnya Lembayung

Let’s catch the evening stars. when every child play around with their own toys. when your father invites you to get chat together with a cup of coffee. when you mother wanna go out together with you, and when your little brother felt asleep in your paradise. 

:)

Tulisan : Jodoh dan Kualitas

kurniawangunadi:

Ini menarik, tak satupun Allah mengatakan dalam Al Quran yang mulia bahkan Nabi dengan hadistnya yang menyatakan bahwa jodoh kita telah ditulis berupa nama seseorang. Bahwa Fulan akan berjodoh dengan Fulanah.

Beberapa dari kita juga ramai membicarakan tentang memperbaiki kualitas diri tanpa tahu apa yang mendasarinya. Bermodal yakin pada sebuah janji Allah saja. Bahwa perempuan baik-baik akan berjodoh dengan laki-laki baik-baik dan sebaliknya. Tanpa mempertimbangkan lagi dan bertanya, seperti apa penilaian dan kriteria baik tersebut menurut Allah.

Meski kita telah berupaya menghapalkan aneka surat dalam quran, shalat wajib dan sunah. Puasa senin-kamis. Apakah kita telah dinilai seorang yang teramat baik sehingga kita pantas mendapatkan seorang bidadari atau seorang pangeran?

Itulah yang Allah rahasiakan, bagaimana cara Allah memasangkan hamba-hamba-Nya. Seperti pada pembuka tulisan, tak satupun dari kalimat quran dan hadist yang mengatakan bahwa jodoh telah ditetapkan berupa seseorang dengan seseorang.

Allah menjodohkan “kualitas”.

Mari saya ajak bertamasya pikiran ala kurniawangunadiologi.

Fyi, saya termasuk orang yang percaya bahwa kalimat al quran akan dipahami orang secara berbeda-beda tergantung pada kadar iman dan kadar ilmunya. Serta tujuannya.


QS An Noor ayat 3

Laki-laki berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

QS An Noor ayat 26

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula). dan wanita-wanita baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik-baik (pula). ……

Perhatikan, Allah memasangkan kualitas

Pezina/Musyrik «——» Pezina/Musryik

Keji «——» Keji

Baik-baik «——» Baik-baik

Mukmin «——» Mukmin

Mari kita perhatikan kode dari Allah ini. Dalam banyak kasus di masyarakat kita. Kita menjumpai ada seorang perempuan yang baik tapi suaminya jahat amit-amit jabang bayi.

Kita juga mendapati ada seorang laki-laki yang maaf
( cacat secara fisik baik itu pendek, dsb ) tapi mendapatkan perempuan yang normal dan baik.

Anomali kan ? itulah Allah yang maha rahasia. Cara kerja Allah tidak pernah bisa dipahami dengan logika manusia bukan? Karena logika kita sendiri diciptakan oleh-Nya.

Mari lagi-lagi saya ajak bertamasya pikiran.

Allah mengajarkan kita melalui berbagai anomali, jika kita dilahirkan normal dengan keadaan fisik yang sempurna. Mengapa harus ada yang lahir cacat padahal Allah bisa dengan mudah melahirkan mereka dalam keadaan yang sama seperti kita. Jawabannya : agar kita berpikir - belajar - memahami.

Sama pula dengan jodoh tadi.

Allah sama sekali tidak mengatakan bahwa Kurniawan Gunadi akan berjodoh dengan siapa misalnya. Tapi yang dijodohkan adalah kualitas kurniawan gunadi saat ini berjodoh dengan kualitas seorang perempuan di seberang sana.

KUALITAS !

Nah, yang udah sering bicara tentang meningkatkan kualitas diri.

Ada satu hal yang sekali lagi harus dipahami dengan tepat dan dalam. Bahwa ukuran kualitas kita bukanlah kita yang menilai, tapi Allah. Dan kualitas itu saya pahami diukur secara menyeluruh. Total.

Bisa jadi kamu adalah perempuan yang amat sangat menutup aurat - tilawahnya bagus - hapalannya banyak dan segala kebaikan lainnya tapi Allah menjodohkanmu pada seorang laki-laki yang sebaliknya, hafalannya buruk - bacaan qurannya kurang lancar - suka melamun.

Lantas, apakah kamu serta merta menolak semua “takdir” itu. Maka seperti melihat sebuah daun, jika orang kebanyakan hanya melihat daun dari tampak atas, mari kita lihat daun dari bahwa dimana tulang-tulang daun begitu menonjol, permukaan yang lebih kasar daripada permukaan atasnya.

Allah menjodohkan kualitas itu secara total. Apakah kamu melihat bahwa laki-laki tadi memiliki kebaikan dalam sisi yang lain. Laki-laki tersebut amat bertanggung jawab pada hidupmu. Yang setiap bertemu pada ayah-ibumu perkataannya lembut dan selalu mencium tangan mereka.

Sama halnya pada laki-laki sok idealis yang menginginkan istri layaknya Khadijah r.a. Apakah dia telah sepadan dengan Nabi SAW?

Jika perempuanmu ini tidak pintar memasak, pencemburu yang amat sangat, cerewet dan sangat teliti. Agamanya belum baik, bahkan mungkin tingkat pendidikan formalnya jauh dibawahmu. Atau gara-gara perempuan tersebut belum menutup aurat dgn baik, belum berkerudung seperti harapanmu misalnya. Apakah kamu sebagai laki-laki serta merta menolak semua itu. Tanpa mau sedikitpun melihat kualitasnya yang lain. Dia yang sangat menyayangi anak-anak, dengan ketelitian dan cerewetnya dia selalu mengingatkanmu dalam hal-hal baik. Dia tidak bisa memasak bukan sebuah masalah besar bukan ? Kamu tetap masih bisa makan.

Ingat saja Allah itu bilang, Arrijalu Qowwamuna ‘Alannisa | (QS. An Nisa : 34). Kalian (laki-laki) sengaja diciptakan untuk menjadi pemimpin bagi mereka (perempuan), maka jadilah pemimpin yang baik, yang melindungi, yang membimbing, yang bijak. Pemimpin yang baik juga harus mendengarkan orang yang dipimpinnya ! Bukan begitu?

Soal kualitas, itulah. Kita harus melihat kualitas jodoh kita nanti secara menyeluruh, bukan secara parsial. Manusia jenis kita ini lebih suka melihat seseorang dari sisi buruknya lantas dengan itu kita menggugurkan segala sisi baiknya.

Kita tentu memiliki kriteria masing-masing dan tentang seperti apa jodoh yang kita harapkan. Ya itu manusiawi.

Mari kita perbaiki kualitas diri kita dan tetaplah berpegang teguh pada satu keyakinan. Bahwa jodoh kita nanti adalah orang yang kualitas totalnya setara dengan kita. Kualitas yang Allah nilai, bukan yang manusia nilai.

Terus ada yang tanya, gimana kalau cerai ? Berpikir balik saja, berarti kualitas mereka tidak lagi setara. Suami-istri tidak mampu mempertahankan kesetaraan kualitas secara bersama. Cerai adalah ketika kualitas keduanya jurangnya sudah terlampau jauh. Pernikahan adalah sebuah lembaga bagi suami-istri untuk saling dan sama-sama meng-upgrade kualitas nya. Bukan hanya salah satu :)

Gimana kalo membujang sampai mati ? Ada 2 kasus: pertama orang yang sengaja men-single-kan diri. Telah jelas bahwa mungkin Allah melihat bahwa kualitas dirinya telah jatuh hingga tak satupun perempuan/laki2 di muka bumi ini yang kualitasnya sama dengannya. Nabi sendiri mengatakan bahwa, tidak termasuk umatnya bagi orang yang membenci sunahnya. Kasus kedua, orang yang tak kunjung bertemu jodohnya meski telah berusaha mencari tapi tidak ketemu-ketemu sampai mati. Karena hukum nikah itu bukan fardhu’ain. Allah lebih memahami perkara ini, saya sendiri belum menemukan pemahaman yang tepat mengenai anomali yang satu ini. Bisa jadi Allah mempersiapkan untuknya yang lain di akhirat sebagai pengganti atas keimanannya dan ketaqwaannya. Atau wallahu’alam. Semoga Allah melindungi saya dari dosa atas jawaban yang seenaknya ini.

Allah merahasiakan jodoh agar kita mengusahakannya kan? Kita mau ngambil dengan jalan halal atau haram, kitalah yang pilih. Jodoh tidak akan tertukar, karena seolah-olah kita sendirilah yang “menentukan” keputusan Allah tersebut.

Manusia seperti kita ini sejak lahir telah diilhami untuk memilih jalan baik atau buruk. Saya pernah mengatakan bahwa pacaran tidak serta merta membuat jodoh itu dekat,pun jomblo tidak akan membuat jodohmu menjadi jauh.

Ingat sekali lagi. Jodoh bukanlah perkara pasangan nama, namun pasangan kualitas. Selamat memperbaiki diri. :D

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).

Bandung, 9 Mei 2013

Rumah saya.

Rumah saya memang jelek. Rumah saya memang kecil. Rumah saya memang bukan tipe rumah ideal. Rumah saya memang bukan rumah pejabat bukan pula rumah jendral. Rumah saya memang tidak membuat orang tergila-gila akan ‘pesonanya’. 

Biar jelek, kecil, tidak bagus, tidak ideal. Tersimpan album cerita di sana. Tertulis coretan di setiap dinding dan lantainya. Tempat saya melaksanakan ibadah. Tempat saya membuang lelah akan hidup. Tempat saya menuang perasaan. Tempat saya yang saya rasa nyaman, tempat saya dan bunda saya bisa berbagi cerita. Tempat saya dan adik saya bertengkar. Pun dengan tempat saya dan ayah saya mengulang kembali pelajaran di sekolah kehidupan. 

Saya sempat cemberut, ketika teman-teman saya berencana menyinggahi rumah saya. Saya takut kalau setelah mereka melihat rumah saya mereka ternganga-nganga tidak percaya ‘benarkah ini rumah seorang ota?’, ‘masa ini sih, rumah ota?’. Dan, ternyata benar. Padahal saya sudah bilang sama mereka “rumahku jelek banget lho. jangan kaget yaa”. Saya tau, mereka orang berpendidikan dan terpelajar yang mana ketika dapat kalimat tersebuat responnya “alaah, enggak. santai aja ta. gapapa”. 

He? Mindset nya beda kali yaa. Jelek buat mereka menurut saya masih bagus. Lah, jeleknya saya ya memang bener-bener jelek. 

Nah, saya bilang tetapi sekarang. Tetapi… kalau di suruh memilih untuk pindah ke rumah yang lebih bagus atau tetap tinggal di rumah yang sekarang biar ‘reot’, saya milih opsi kedua. Biar, bukan masalah… Rumah ini adalah ladang pahala saya. Rumah ini masih mau menampung saya menyelesaikan jenjang pendidikan saya. Rumah ini segalanya buat saya. Sudah bingung saya buat descriptive text tentang rumah saya….

Baiti Jannati lah pokoknya…

Semarang, 3 Mei 2013

Ainina

Smile.

mikhaangelo:

Okay, here i am typing my first blog. And what i’m gonna write right now is not fully about music or stuff, i’m writing about something very simple in life that can change the world, Smile.

We don’t live alone, we got family, friends, and even strangers in this world. And I’ve been watching a lot of people lately, how they interact with others. And i found 1 interesting thing that can make a lot of difference. which is a smile. when you talk to someone with a smile, they will feel much better. I know because i experienced it myself.

That experience leads to the our song “smile”, which tells us that everybody looks better with a smile on their face. So Start, Live, End your day with a smile , cuz’ your smile is an inspiration to the world.

When we smile , we make others feel better.

When we smile, we’re making the earth a better place to live.

+ “When you smile to someone (try strangers passing by ;) and he/she smiled back, you will get a little mood booster, even if it’s just a little bit. TRY IT YOURSELF.”

—— > I’ve tried.                                                                            - Mikha -