Qurrota 'Ainun

ice cream makes you happy
Rohis SMA Negeri 3 Semarang bravely present “Latihan Kepemimpinan Muslim 2”. Sabtu-Ahad, 19-20 April 2014. Technical meeting Kamis, 17 April 2014 di Ruang Civic 2. Ayo adik-adikku kelas X nyesel banget nggak ikutan acara super duper keren dari @rohismaga satu ini!!! Be there yah. For more information please contact Eri 083842532225 (Eri: for male) or 085713941045 (Desca: for female). (at SMA Negeri 3 Semarang)

Rohis SMA Negeri 3 Semarang bravely present “Latihan Kepemimpinan Muslim 2”. Sabtu-Ahad, 19-20 April 2014. Technical meeting Kamis, 17 April 2014 di Ruang Civic 2. Ayo adik-adikku kelas X nyesel banget nggak ikutan acara super duper keren dari @rohismaga satu ini!!! Be there yah. For more information please contact Eri 083842532225 (Eri: for male) or 085713941045 (Desca: for female). (at SMA Negeri 3 Semarang)

Dedicated to: little girl’s super hero. 

Pandangan spekulatif: bahwa seburuk buruknya seorang lelaki bagi banyak orang, maka ia tetap seorang ayah ideal bagi putrinya. ( Remy Sylado dalam Cau Bau Kan, 1999)

Dedicated to: little girl’s super hero.

Pandangan spekulatif: bahwa seburuk buruknya seorang lelaki bagi banyak orang, maka ia tetap seorang ayah ideal bagi putrinya. ( Remy Sylado dalam Cau Bau Kan, 1999)

Tertera dalam sebuah buku “Aceh Mendesah dalam Nafasku” karya Abdul Wachis B.S. 1999 (at Perpustakaan Universitas Indonesia - Crystal of Knowledge)

Tertera dalam sebuah buku “Aceh Mendesah dalam Nafasku” karya Abdul Wachis B.S. 1999 (at Perpustakaan Universitas Indonesia - Crystal of Knowledge)

Langit melebur.  (at Situs Tamansari Yogyakarta)

Langit melebur. (at Situs Tamansari Yogyakarta)

Bersama Ibunda. Diambil oleh Ayahanda. (Bogor, 2 Maret 2014) (at Bogor Commuter Line Station)

Bersama Ibunda. Diambil oleh Ayahanda. (Bogor, 2 Maret 2014) (at Bogor Commuter Line Station)

Dedicated to me :) (3)

Ini lanjutan postingan saya tempo hari dengan judul yang sama “Dedicated to me"…

Satu minggu kemudian, lagi-lagi saya ngerasa jadi orang bego. Saya tergiur buat ikut seleksi program pertukaran pelajar ke luar negeri, AFS namanya. Entah, apa yang jadi motivasi saya ikut program begituan. Yang saya belum tentu bakalan di sana, tapi papah dan bunda saya ngarepin supaya gadisnya bisa masuk di sana. Yah, akhirnya dengan separuh hati saya ikut seleksi tahap satu. Seminggu kemudian saya tergiur lagi-lagi sama permainan konyol yang mempermainkan saya. Dengan alasan topeng lah, yang katanya agar inilah agar itulah, yah merasa ingin dibantai lagi untuk yang kesekian kali. Saya sudah izin sama Bunda, Bunda pun pasrah. Yasudahlah lakukan apapun yang jadi kemauanmu, nantinya kamu juga akan menemukan siapa dirimu. Bener-bener mencari yang namanya ‘jati diri’. Oke, saya daftar di organisasi itu. Saya tidak berani berharap banya-banyak lah. Yasudah, saya sudah begini ya harus siap dengan segala resiko dan konsekuensi yang ada. Yap 2 hari untuk penghabisan diri. Sore menjelang malam akhirnya penguman, dan… saya ngga lolos :(. It’s okay, saya berusaha ambil positifnya. Lalu, tepat setelah pengumuman itu, dimana saya masih di sekolah, masih dibalur oleh peluh, masih berseragam putih abu-abu, saya mengaktifkan telepon seluler buatan salah satu negara Asia Timur berwarna biru. Ada beberapa pesan singkat, salah satunya dari bunda saya… dan isinya adalah “Maaf, adik belum lolos seleksi tahap AFS 2014/2015”. Krrrreeek. Di saat yang bersamaan juga, teman saya yang lolos di event itu tiba-tiba njenggirat “eh, aku lolos tahap 1 AFS. Alhamdulillaah”. Well, pembaca tau apa yang saya rasakan saat itu.
Okay, the show must go on. Hari itu, saya dijemput bunda saya. Wajah saya pura-pura bahagia. Di salah satu lampu merah, bunda bertanya “gimana hasilnya?”. Saya menjawab “hehe, ngga lolos lagi”. Bunda diam, di detik ke 12 beliau berkata “bunda ngga tau lagi apa yang bisa jadi pelipur lara”. Saya pun terdiam, saat itu.
Di rumah, saya memang sudah menyiapkan segala rasa. Pokoke ojo nangis, raksah menye. Masih ada jalan. Lalu saya menemuin bunda saya, beliau mengulang kalimat yang sama lagi. Seketika saya sadar, beliau kasian sama saya. Sebetulnya beliau juga ingin liat saya seneng. Ya minimal ada lah yang berhasil di salah satunya. Beliau bilang “Bunda ngga tau lagi apa yang bisa jadi pelipur lara, ota gagal di tiga event besar sekaligus”. Tes… akhirnya saya lebur juga.

Itu peristiwa sebelum Ramadhan 1435 H, bulan juli kalau tidak salah. Setelahnya, bulan Agustus dan September. Bulan itu, rasanya seperti mimpi, seperti saya diangkat lagi, dihidupkan lagi. Saya dan teman saya mengirim karya ilmiah pertama kami di salah satu ajang bergengsi yang diadakan oleh Kemendikbud. Alhamdulillaah… judul karya saya ternyata ada di salah satu kategori yang akan berangkat ke Ibukota Negara Indonesia di akhir Oktober 2013 mendatang. Jujur, saya nangis waktu saya liat bukti otentiknya. Yang bikin saya tambah nggero lagi ya itu, bunda saya juga ikutan nangis gara-gara liat saya nangis.

Ncen, roso ibu gak ada matinya.

Sekarang, saya merasa jadi diri sendiri, yang nggak lagi-lagi mau pake topeng. Belajar menempatkan diri, lagi lagi lagi lagi. Belajar memahami, belajar mengerti. Ingin lebih berguna bagi orang lain, ingin jadi good changemaker. Hhhh… ini belum berakhir, manusia tidak ada yang tau kapan akan berakhirnya. Yang jelas satu, saya akan terus merajut mimpi, menjemput bahagia. Mari senantiasa menelungkupkan kedua tanganmu dalan sebuah do’a. Aamiin…

Semarang, 13 Maret 2014 20:23 WIB

Penulis

My hope. (at Perpustakaan Universitas Indonesia - Crystal of Knowledge)

My hope. (at Perpustakaan Universitas Indonesia - Crystal of Knowledge)

Habis malam datanglah siang. Habis topan datanglah reda. Habis perang datanglah menang. Habis duka datanglah suka. -R.A Kartini dalam suratnya kepada Tuan E.C. Abendanon 15 Agustus 1902.

Habis malam datanglah siang. Habis topan datanglah reda. Habis perang datanglah menang. Habis duka datanglah suka. -R.A Kartini dalam suratnya kepada Tuan E.C. Abendanon 15 Agustus 1902.

Jangan lupa mengobrol dengan orang tua. Ingatlah bahwa dulu, mereka yang paling suka mengajak kita berbicara sejak kita belum mengenal kata.

—Tia Setiawati Pakualam (via karenapuisiituindah)

(via sebelasbintang)

Hidup itu rumit, tapi cara kita hidup masih bisa kita sederhanakan.

—Juni Barra Pradita (via nnndaru)